Tampilkan postingan dengan label mikir jeru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mikir jeru. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 November 2016

Ingin Ngilang

1:12 am

Kukira sudah pagi, ternyata masih jam segini. Aku akhirnya mengatakan semuanya pada seseorang yang sungguh tak kuduga. Pikiran akan ketidaksanggupan untuk diperlakukan dengan ejekan dan hinaan yang berulang-ulang sejak latdas yang membuatku geram dan semakin yakin untuk melakukan ini.
“Bro, aku kok pengen ngilang ya saka kene.”
“Lah kenopo?”
“Embuh yo, aku merasa gak dianggap ada sama mereka.”
“Kok iso? Mungkin gur perasaanmu wae.”
“Yo embuh sih, tapi mereka itu—entah sengojo tah gak, entah tenanan opo gur guyon—ki ngejek dan ngehinaku dengan hal yang sama dan aku suwi-suwi ngeroso nek aku wis gak penting ono ning kene.”
“Sejak kapan?”
“Sejak latdas.”
“Gaklah, padahal kw sing paling sering nongol nang sekre dan sering srawung juga karo mereka.”
“Gak ngono, aku ngerasa nek saiki potensine wis akeh dan awakku ki rak dibutuhke meneh. Gur wong rak penting ngono. Dan entah kenapa, mereka ki malah ngelek-ngelek aku pereh gaweanku gur akeh gabut e dan ngehina aku macam lemah, cupu.. Okelah emang mereka kuat dan oke dan aku minderan dan blablabla. Tapi aku gak kuat nek misal ono ng sekre tapi lara atiku eling pas kui. Daripada dosaku ra bar-bar dendam karo mereka mending aku lungo.”
“Ojolah, nis. Kw mungkin gapopo ngilang kyk si X pas biyen kae. Tapi balik meneh yo?”
“Aku meh nyoba. Kiro-kiro pas aku raono bakal ono pengaruh e opo gak. Nek gak ono yo mungkin tak teruske.”
Kemudian mbrebes mili ditengah-tengah jadi anak tiri yang dikasih kerjaan cuma jagain anchor utama di gelap malam jumat diatas jembatan Babarsari. Kemudian aku berpikir lagi betapa kekanak-kanakannya aku ini. Teringat saat alumni perempuan favorit berkata bahwa sekarang bukan lagi saatnya jadi momongan tapi emonglah angkatan dibawahmu. Jadilah tangguh saat aku bilang aku bakal merepotkan jika kita muncak bersama—yang berujung wacana. Dan betapa aku egois dan pemalas saat teringat kerjaanku menjadi penjaga camp—walaupun dua hari berturut-turut kerja—dan hanya memasak sedikit untuk anak baru dan teman-teman ditambah dua nesting tidak matang karena ketidakbecusanku dalam memasak benda itu. Terkadang muka masa bodoh yang sengaja kupasang cukup menunjukkan bahwa aku sedang teringat kenapa aku jadi seperti ini.
Sebelum mengatakan semuanya, aku lebih geram dan agaknya dendam kesumat merajai otakku. Sempat berharap arus deras sungai dibawah menyapu mereka habis dan aku sedikit merasa lega. Sebenarnya saat itu aku hanya dendam kepada satu orang yang berada dibawah sana, namun satu orang lagi membuatku geram sore itu. Tanggapannya saat aku tak ingin ikut lomba membuatku muntab tak peduli sedang ada siapa di tempat itu. ;;]]   
»»  READMORE...

Kamis, 06 Agustus 2015

Three Dreams In A Morning

Pagi tadi, setelah sahur buat nyaur puasa saya tidur sebelum imsyak. Dalam tidur aku bermimpi sedang melakukan suatu permainan dengan formasi melingkar bersama teman-teman kelas 3 sma. Yg kuingat hanya Inong dan mas mantan. Ramai dan seru sekali. Diselingi cerita Inong tentang berhemat saat di perantauan dengan membawa kotak bekal isi nasi, lalu mas mantan tentang sebuah transaksi keuangannya yang semakin makmur (berdasarkan ingatan mimpiku). Kemudian saat permainan akan mencapai klimaks aku terbangun kebelet pipis. Setelah ke kamar mandi aku kembali tidur. 

Kemudian mimpi lagi berdua dengan doi traveling pake travel. Lalu aku melakukan hal aneh selama didalam mobil. Press my back to his dengkul bending to his chest. Pokoknya kita melakukan kontak fisik. Ciuman? I dont think so its appeared. Kemudian aku terbangun karena ibuku mengomel padaku dan punggungku terasa keras dan sakit. Ku abaikan saja karena masih sangat mengantuk. Lalu aku kembali bermimpi sedang diatas perahu kayu bersama 4 orang. Lalu ada seorang yang kupikir adalah ketuanya menyerahkan 3 buku yg berisi soal-soal psikotest yang harus kami isi. Aku berada di barisan paling belakang perahu, dibelakangku ada seorang pria yg merupakan panitia yg cukup tampan dan charming. Aku sempat terpana. Isi soal tersebut kebanyakan berisi tentang film Pirates of The Carribean dg tokoh utama Jack Sparrow. Entah kenapa aku berpikir normal saja, ditambah saat itu soal tersebut terlihat samar-samar sehingga aku meminta bantuan si panitia tampan itu. Tak butuh waktu lama hingga aku merasa nyaman didekatnya. Dan secara tak sadar aku bersender di bahunya hingga tertidur. Tetapi aku masih bisa melihat jika kami sudah sampai ditempat tujuan dengan kembali adanya si ketua galak itu yang menyuruh si panitia tampan untuk melepaskan bahunya dariku. Ketika dilepas aku terbangun shock. Aku hampir selesai mengerjakan soal aneh ini yang kuingat ada 111 soal. Lalu asal ku kumpulkan saja seperti biasanya yg ku lakukan saat kuliah, pasrah. Kemudian scene selanjutnya aku berada di tempat seperti sabana saat aku mengikuti Latdas 31 Plantagama di Gunung Merbabu Februari lalu. Bedanya, terdapat papan tulis putih di depan dengan satu soal tentang biologi sma kelas 3. Lalu banyak orang berbaris untuk mendapat giliran mengerjakan. Disana aku bertemu dengan teman sd ku Clarissa dan Arum. Lalu aku mendapat penjelasan dari mereka kalau kami sedang mengikuti rangkaian acara seleksi memasuki universitas (namanya rumit, seingatku mirip nama belanda mgkn dulunya dibangun orang belanda). Tetapi yang aku ingat aku tak pernah mengisi form pendaftarannya. Aku juga sempat menyebut SMA Don Bosco entah untuk apa. Lalu soal terhapus dan diganti soal yang baru. 

"Jika aku disini berarti aku seharusnya juga ikut berbaris seperti mereka," pikirku. 

Lalu aku teringat tentang panitia tampan itu, dan aku diberitahu Clarissa bahwa namanya Chris. Oh god nama yang indah, terlihat bahwa aku mulai buta terhadap cinta. Aku sangat berharap bertemu dia lagi dan mulai mencari pria itu disekitar sana. Setelah terlihat, aku berpura-pura melakukan suatu hal agar mendapat perhatian darinya--why the hell I became a whore like this!? Entahlah.. lalu aku mulai kabur dengan akhir ceritanya dan tak lama aku terbangun dengan radio yg memutarkan lagu ada band walau badai menghadang.

Kupikir moral yg dapat kuambil adalah:
Jangan menyepelekan hal-hal khususnya kuliah. 
Jangan menuruti rasa kantuk dan capek karena itu bakal berefek fatal. 
Jangan terbiasa bergantung kepada orang lain karena kau akan kaget saat kau benar-benar tak memiliki siapa-siapa di tempat asing. 
Sekian.


»»  READMORE...

Minggu, 20 Juli 2014

People has feelings

Why be mean? Why you have to be so mean? Like, when you can be happy with yourself then why being mean to others? I mean, seek your own happines if you didn't find one who can makes you happy. Just don't be mean like annoys people so that could make you happy.
Don't push people to be everything you want. Don't judge. Everyone is different and you don't have a right to change them to be what you want. Just because people didn't have what you have, didn't get what you get, didn't had what you already had—aku ngomong opo ya. Just don't blame them for it. Pereh kowe sugeh, pereh kowe luwih pinter saka si A, luwih alim saka si B, luwih ayu/ganteng saka si C, tah luwih laku saka si D. Trus kowe semena-mena karo si X, ojo toh ya. I know it's your life, they say do whatever you want, and blablablah.
Just knowing that everyone has feelings. Ketahuilah bahwa semua orang punya perasaan. Dan walaupun kamu pernah—atau sering malah—being mean to people, please coba kurang-kurangin tuh kebiasaan. Gak baik tauk bikin orang gak bahagia. Gue nggak nyuruh elo buat ngebahagiain semua orang, just don't make them unhappy is enough. Gue pribadi juga masih suka bikin orang di sekitar gue gak seneng dan malah sebel sama gue. Bentar, menurut gue sebel itu beda ya sama bikin orang gak bahagia. Gue juga lagi mencoba buat ngurang-ngurangin dan itu susah. Jadi kita sama-sama aja ngurang-ngurangin being mean to people dan try to be nice to people.

Let's spread the happiness than the hate (?)

»»  READMORE...